Hidup Sederhana Itba' Rasulullah SAW

 MENJADI PRIBADI DENGAN HIDUP SEDERHANA

(Kajian Terhadap Kesederhanaan Rasulullah SAW)

A. MAKNA KESEDERHANAAN

  Kesederhanaan merupakan sikap atau tindakan yang tidak berlebih-lebihan. Dimana dalam hal ini kita sebagai umat Muslim hendaknya mempunyai siakp sederhana. Baik sederhana dalam ucapan, tindakan, maupun dalam hidup kita. Hidup sederhana bukan berarti tidak mau usaha, tidak mau berjuang, dan pasrah terhadap sesuatu yang kita miliki. Namun, dalam konteks ini Islam mengajarkan untuk tetap berusaha dan bekerja keras. 

Dalam kehidupan sehari-sehari, kita diperintahkan untuk hidup sederhana, seperti halnya dengan menggunakan barang-barang yang tidak berlebihan. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman dan IPTEK, kita jadi lupa bagaimana tata caranya hidup yang sesuai dengan perintah agama Islam. Misalnya saja, terkadang kita menginginkan atau membeli barang-barang mewah yang harganya mahal yang diluar kemampuan kita. Kita hanya menuruti hawa nafsu kita saja, yang pada akhirnya ketika kita tidak mampu membelinya maka kita akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkannya. Seperti mencuri, korupsi, menipu, dan lain-lain. Padahal Allah melarang kita untuk hidup yang mewah dan boros. Allah memerintahkan kita untuk menjadi pribadi yang sederhana. 

Seperti yang diajarkan Rasulullah kepada kita. Dalam kisah disebutkan bahwa ketika tubuh Rasulullah terlihat bekas guratan tikar, Umar menangis dan membandingkan hidup Rasululullah dengan hidup Raja Romawi dan Persia yang kaya rasa dengan rumah yang mewah dan bergelimang harta, sedangkan Rasul SAW hanya sebagai utusan dari Allah. Dari situ Rasul SAW mengatakan kepada Umar,”Wahai putra Khatab, apakah kamu tidak rela jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka ?”. Dari sini kita tau bahwa Rasullullah SAW dan keluarganya menerapkan pola hidup yang sederhana dan selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan kepadanya. Untuk itu, hendaknya kita sebagai manusia biasa dapat mencontoh kesederhanaan yang diajarkan Rasulullah SAW, supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

B. DALIL TENTANG HIDUP SEDERHANA


Dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 26-27

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (٢٦)إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (٢٧)


Artinya: (26) “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”.


27. “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.


Dijelaskan bahwa, Allah swt memerintahkan kepada semua orang, yang terdekat seperti kerabat. Allah memerintahkan untuk memberikan haknya, baik itu dalam bentuk kebaikan dan rasa bakti kita. Dan juga Allah memeerintahkan untuk memberi kepada orang-orang miskin dan musafir. Dan Allah melarang kita berlebih-lebihan secara boros dalam memebelanjakan harta.

Allah menegaskan kepada kita, bahwasannya orang yang suka boros dan membelanjakan hartanya untuk bermaksiat, mereka semua itu menyerupai setan. Dan setan itu selalu ingkar  kepada Allah swt.


Al-Qur’an ayat 29-30. Yang berbunyi:

وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا (٢٩)إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا (٣٠)

Artinya: (29) "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”.

(30) “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”.

Dijelaskan bahwa Allah melarang kita untuk pelit dan juga terlalu membelanjakan harta yang berlebih-lebihan, karena dengan hal itu kamu akan menjadi tercela Maksudnya, jika kamu terlalu berlebihan dalam membelanjakan hartamu, maka kelak hartamu akan habis dan kamu tidak mempunyai apa-apa.

Allah swt melapangkan rezeki kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan juga menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha mengetahui dan Maha melihat akan hamba-hambanya. Allah bisa saja menentukan berbagai urusan manusia sekehendak-Nya.

Dan Hadits Nabi Muhammad SAW:


أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَ : “ مَا هَذَا السَّرَفُ؟ “ فَقَال : أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ؟ فَقَال : نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَار


Artinya  : Rasulullah Saw. berjalan melewati Sa’d yang sedang berwudu dan menegurnya,”Kenapa kamu boros memakai air?”. Sa’ad balik bertanya,”Apakah untuk wudu pun tidak boleh boros?”. Beliau Saw menjawab,”Ya, tidak boleh boros meskipun kamu berwudu di sungai yang mengalir”. (H.R. Ibnu Majah  dan Ahmad) .

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa, Rasulullah saw melarang kita sebagai umatnya untuk berbuat boros dalam hal apapun, walaupun dalam hal berwusdhu. Meskipun Rasulullah saw tetap menyuruh kita sebagai umatnya untuk berwudhu secara sempurna. Karena itu, beliau sangat menganjurkan umatnya untuk selalu efisien dalam hal apapun, karena, “Sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya”. Seperti itulah sabda Rasulullah saw yang telah menjadi teladan dan panutan bagi umatnya. 


C. MANFAAT HIDUP SEDERHANA

Pola hidup yang sederhana bisa juga dikatakan hidup sebagaimana layaknya, dalam artian tidak bermewah-mwahan, tidak pamer kekayaan, tidak memamerkan kemampuan materinya kepada orang lain.

Dengan demikian, dengan hidup yang sederhana ini dapat mendatangkan manfaat yang begitu besar kepada pribadi kita masing-masing. Tidak hanya manfaat untuk diri kita, namun bisa saja terhadap keluarga dan juga lingkungan.

Manfaat hidup sederhana bagi diri sendiri bisa terbebas dari perasaan khawatir akan masalah keuangan, kemudian memiliki cadangan harta untuk membangun masa depan, bisa juga dengan hidup yang sederhana akan lebih sehat, karena tmengurangi makan diluar rumah. Manfaat bagi keluarga misalnya, memiliki dana dapat berlibur bersama keluarga, untuk selalu berjaga-jaga, jikalau ada keperluan mendadak. Dan manfaatnya terhadap lingkungan, seperti menghemat pengeluaran energi, dapat menjauhkan kita dari keinginan untuk mencuri, karena selalu merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

Jadi, dengan kesederhanaan itu kita bisa menjadi pribadi yang sederhana dengan selalu bersyukur menerima apa adanya atas apa yang Allah berikan kepada kita, ,menjalani hidup seperti yang diajarkan Rasulullah saw. Karena dengan hal itu, kita tidak selalu diperbudak oleh keinginan atau nafsu kita. 


Comments