Peran Santri
PERAN SANTRI DI ERA MILENIAL
A. Pengertian Santri
Di kalangan masyarakat, istilah santri sendiri pada umumnya merupakan julukan kepada orang yang sedang mencari ilmu agama dengan menetap di Pondok Pesantren. Pondok pesantren sendiri adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang pada umumnya dianggap sebagai tempat untuk mencetak ahli-ahli agama Islam.
Pandangan masyarakat mengenai santri identik dengan pemikirannya yang kolot. Tidak hanya itu, bahkan gaya hidupnya pun juga dianggap sebagai sesuatu yang kampungan. Namun, sesuai zaman sekarang yang sudah kekinian atau milenial yang semua serba canggih dan maju, kita tidak bisa mengklaim bahwasannya santri tidak berguna dalam kehidupan tatanan masyarakat atau tidak bisa dalam mengikuti perkembangan zaman karena pemikiran dan gaya hidup yang dianggap masih bersifat tradisional. Namun, terlepas dari berbagai macam pandangan masyarakat yang menganggap santri belum bisa atau bahkan tidak bisa membawa perubahan yang baik dalam kehidupan tatanan masyarakat justru malah sebaliknya. Karena, begitu banyak peran santri dalam segala bidang masyarakat dan membawa perubahan dalam masyarakat. Dalam bidang pendidikan misalnya. Seperti yang kita lihat sekarang, tidak sedikit diantara kalangan masyarakat yang masih belum bisa mengaji atau pemahaman mengenai ajaran-ajaran Islam yang masih dangkal. Nah, dari situ pesantren memperkenalkan literasi dengan mengajak masyarakat belajar mengaji dan pendidikan mengenai ajaran-ajaran Islam. Selain itu, santri juga mendorong masyarakat untuk selalu bekerja keras dalam meningkatkan kehidupan ekonomi mereka dengan cara menanamkan keimanan, bahwa “bekerja itu merupakan sebagian dari ibadah”. Karena, juga tidak sedikit sekarang para pelajar yang disamping menimba ilmu di sekolah atau di kampus juga hidup di lingkungan pesantren.
B. Santri dan Mahasiswa
Tidak hanya dalam lingkungan masyarakat saja. Dalam dunia pendidikan, santri juga berperan aktif untuk membentuk akhlak dan pribadi yang beradab. Dalam lingkungan kampus misalnya. Mengingat di zaman sekarang tidak sedikit mahasiswa yang biadab dengan dosennya. Mereka menganggap dosen sebagai teman belajar mereka, sehingga pada umumnya mahasiswa berperilaku seperti dengan temannya sendiri. Baik dalam interaksinya yang kurang sopan, kemudian tutur sapanya yang kurang baik, atau sikapnya disaat kegiatan belajar mengajar di kelas. Meskipun menganggap dosen sebagai teman belajarnya, namun tetap ada adab dan tata krama yang wajib diperhatikan. Nah, sebagai santri yang diajarkan kesopanan di pesantren, bisa juga diterapkan di lingkungan kampus dengan bersikap yang baik dengan teman-temannya, khususnya dengan dosen.
Semisal, berhenti dan menununduk saat guru lewat. Hal ini bisa diamati apabila masuk di lingkungan pesantren. Ketika ada kiai atau guru yang lewat, seketika itu santri akan menghentikan langkahnya dan menundukkan kepalanya bila ia sedang berjalan. Tindakan yang seperti itu menandakan ketawadhu’an santri terhadap gurunya. Dan bukan tidak berdasar, justru inilah yang sesuai dalam kitab Syarah Ta’lim Muta’alim.
Contoh lain seperti berjalan mundur dihadapan guru. Di dalam lingkungan pesantren kita sering menjumpai bahwa para santri berjalan mundur ketika dihadapan guru. Baik ketika dipanggil guru maupun setelah berjabat tangan dengan guru. Bahkan banyak dijumpai santri yang berjalan ndengkul (berjalan menggunakan lutut) dengan posisi berjalan mundur saat setelah menemui guru, ini adalah salah satu akhlak santri, bentuk ketawadhu’an santri terhadap guru.
Kemudian mencium tangan guru atau kiai. Kebanyakan dalam lingkungan kampus jarang ditemukan mahasiswa yang mencium tangan dosennya. Jangankan mencium tangannya, menyapa dosen ketika bertemu pun jarang ditemukan. Berbeda lagi kalau di pesantren. Sudah menjadi kewajiban tersendiri bagi seorang santri ketika bertemu gurunya yang lewat mencium tangannya. Bukan merupakan tindakan yang aneh, melainkan itu merupakan adab yang benar dan sepantasnya bisa diterapkan di lingkungan luar pesantren. Dan justru seperti itulah unggah-ungguh yang baik sesuai di dalam kitab akhlaqul Baniin.
Dengan semua itu, diharapkan bisa membuat teman-teman yang lain mencontoh sikap yang baik itu. Jadi, bisa dikatakan santri tidak hanya berperan dalam dunia pendidikan saja untuk membawa perubahan yang besar, tapi juga dengan sikap dan perilakunya yang baik.
C. Cara dan Peran Santri Dalam Mewujudkan Generasi Yang Berkualitas
Perilaku anak muda yang amoral dan biadab disebabkan karena pengaruh zaman milenial sekarang. Sebagai santri dan juga generasi penerus, sangat di harapkan untuk turut andil dan berperan sesuai dengan tuntunan zaman yang ada. Para generasi muda biasanya dan memang kebanyakan sangat terbuka terhadap berbagai pemikiran orang lain. Diantara generasi muda rawan mempunyai karakter yang kurang baik, semisal kurang peka terhadap lingkungan masyarakat, pola hidupnya yang bebas, kurangnya sikap sosialisasi dengan orang lain, dan kurang bersikap realistis. Maka dari itu, sudah sepantasnya santri turut andil dan memberikan sumbangsih kepada saudara-saudaranya di luar sana yang mungkin sangat membutuhkan arahan dan sedikit ilmu yang dimiliki. Sehingga, pada ujungnya nanti bisa menjadi generasi millenial yang berilmu, berkualitas, dan berkemajuan, serta dapat memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan agama. Seperti yang sudah disebutkan di dalam Al-Qur’an surah At-Tahrim ayat 6, yang berbunyi:
(يأ ايّها الّذين امنوا قو انفسكم واهليكم نارا وقودها النّاس والحجارة....الأية)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.
Ayat tersebut diperkuat oleh hadits Nabi:
(عن ابي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقول: من رأى منكم منكرا فليغيّره بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك اضعف الايمان
Artinya: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman”.
Pandangan mengenai hal itu, Imam Sapari, selaku Korps Muballigh Muhammadiyah (KKM) Kota Surabaya mengemukakan bahwa di era millenial sekarang ini, para generasi tersebut mulai tumbang. Dan kita sebagai santri harus bisa merubah pemikiran dan gaya hidup yang lebih baik, yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jadi, dengan adanya teknologi di zaman sekarang yang sudah sangat maju dan gaya hidup modern yang begitu pesat, sebagai santri wajib dalam mewujudkan generasi-generasi Qur’ani yang berilmu dan berkualitas.
Oleh karena itu, haruslah para generasi muda bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk hal yang berguna. Dan janganlah menyia-nyiakan waktu di masa muda ini hanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Dan sebagai santri, agent of change haruslah menciptakan generas-generasi yang berkemajuan, berilmu, dan berkualitas sesuai dengan syari’at agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits dalam kesehariannya. Hingga pada akhirnya terwujudlah dan menjadilah generasi-generasi penerus bangsa yang sesuai syari’at Islam yang tangguh tidak mudah digoyahkan oleh apapun.
Comments
Post a Comment